skip to Main Content
+62 822-1122-6676 customercare@autoimuncare.com
Cara Mengobati Hepatitis C

Cara Mengobati Hepatitis C

Penyakit Hepatitis C yang termasuk ke dalam 10 besar penyebab kematian di dunia. Angka kejadian penyakit hepatitis C berkisar 0,5-4% dari jumlah penduduk. Jika diasumsikan sekiatr 2-3% dari 220 juta penduduk Indonesia mengidap penyakit ini maka terdapat sekitar 5-7 juta orang yang terinfeksi hepatitis C.

Jumlah ini dapat bertambah setiap tahunnya karena 10% dari meraka yang teinfeksi mengalami gejala-gejala yang tidak spesifik (carrier/pembawa virus) sehingga tidak diketahui oleh masyarkat dan tidak terdiagnosis oleh dokter. Carrier VHB (virus hepatitis B) atau VHC (virus hepatitis C) berpotensi sebagai sumber penyebaran penyakit hepatitis B dan C.

Virus hepatitis C paling berbahaya dibandingkan dengan virus hepatitis lainnya, karena 80% penderita terinfeksi bisa menjadiinfeksi yang menahun dan bisa berkelanjutan menjadi hepatitis kronik kemudian sirosis hati, kanker hati dan kematian.

Proses perjalanan ini memerlukan waktu yang panjang hingga belasan atau puluhan tahun. Virus ini dapatber mutasi dengan cepat, perubahan-perubahan protein kapsul yang membantu virus menghindarkan sistim imun.

Genotip genotip yang berbeda mempunyai perbedaan distribusi geografi. Genotipe 1a dan 1b paling banyak di Amerika, kira-kira 75% dari kasus. Genotip 2, 3 dan 4 hanya 30% dari kasus. Di Jepang dan Cina tipe 2 lebih sering dijumpai , tipe 3 sering dijumpai di Eropa dan Inggris, tipe 4 banyak ditemui di Timur Tengah dan Afrika.

Tipe 5 banyak di Afrika dan sedikit di Amerika Utara, jenis tipe 6 banyak ditemukan di Hongkong dan Macau. Genotipe 1a dan 1b merupakan jenis yang resisten terhadap pengobatan dan manifestasi penyakit umumnya berat

Jenis pengobatan yang akan dijalani penderita hepatitis C tergantung pada tingkat kerusakan hati, serta genotipe virus yang diidapnya. Sementara tingkat kesembuhannya tergantung pada beberapa faktor, terutama genotipe virus hepatitis C yang diidap dan jenis pengobatan yang dijalani pasien.

Tetapi jika positif terdiagnosis mengidap hepatitis C, Anda belum tentu membutuhkan langkah pengobatan. Sebagian besar hepatitis C akut dapat sembuh tanpa penanganan khusus. Dokter akan menganjurkan tes darah untuk memantau apakah sistem kekebalan tubuh pasien berhasil memberantas virus selama beberapa bulan.

Apabila virus tetap ada, dokter umumnya akan memberikan obat pegylated interferon dan ribavirin. Obat-obatan tersebut akan diberikan lewat suntikan mingguan selama 48 minggu. Jika dibutuhkan, dokter juga akan menganjurkan obat-obat lain seperti simeprevir, sofobuvir, daclatasvir, kombinasi ledipasvir dan sofosbuvir, serta kombinasi ombitaisvir, paritaprevir dan ritonavir.

Sama seperti obat lain, obat-obatan hepatitis C berpotensi menyebabkan efek samping. Misalnya, tidak nafsu makan, anemia, demam, mual, depresi, gatal-gatal pada kulit, kecemasan, sulit berkonsentrasi, serta sulit mengingat sesuatu.

Saat ini telah dikembangkan jenis obat antivirus baru yang lebih efektif. Obat terbaru hepatitis C disebut direct antiviral agent (DAA) yang terbukti lebih aman, efektif, dan dapat ditoleransi tubuh. Waktu penyembuhan hepatitis C dengan DAA juga lebih singkat, yaitu sekitar 4 bulan.

Obat-obatan hepatitis C (khususnya ribavirin) berpotensi membahayakan janin. Karena itu pengobatan hepatitis C pada ibu hamil umumnya dilakukan setelah pengidap melahirkan.

Obat-obatan hepatitis C (khususnya ribavirin) berpotensi membahayakan janin. Karena itu pengobatan hepatitis C pada ibu hamil umumnya dilakukan setelah pengidap melahirkan.

Di samping penanganan medis, Anda juga bisa melakukan langkah-langkah sederhana untuk membatasi kerusakan yang terjadi pada hati. Misalnya, menerapkan pola makan yang sehat dan seimbang. berolahraga dengan teratur, berhenti merokok, serta menghindari konsumsi minuman beralkohol.

Harap diingat bahwa jika pernah mengidap dan sembuh dari hepatitis C, bukan berarti tubuh Anda memiliki kekebalan sepenuhnya terhadap virus tersebut. Meski sudah pulih, penderita hepatitis C harus berhati-hati karena tetap memiliki risiko untuk kembali terinfeksi penyakit yang sama.

Apa Itu Livercare?

Livercare marupakan Formula Organik produk PT. Autoimun Care Indonesia (PT.AICI) yang di produksi khusus dengan teknologi canggih yaitu Autofermentasi Nanotechnology dan Formula Organik Livercare yang diproduksi adalah hasil terbaik dari berbagai penelitian yang dilakukan oleh Tim Formulator kami selama bertahun-tahun dengan melibatkan berbagai bahan-bahan Organik dengan kualitas terbaik.

Kandungan-kandungan alami yang terkandung dalam Formula Organik Livercare dapat berperan sebagai anti virus yang menyerang Liver seperti Hepatitis A dan Hepatitis B, Anti peradangan yang diakibatkan oleh aktivitas virus, Memperbaiki fungsi organ Liver serta kelenjar Empedu yang berperan sebagai sintesa lemak dalam darah, Mencegah dan mengurangi timbulnya plak dalam pembuluh darah.