skip to Main Content
+62 822-1122-6676 customercare@autoimuncare.com
Faktor Penyebab Penyakit Thypoid

Faktor Penyebab Penyakit Thypoid

Thypoid adalah suatu penyakit demam akut yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi. Selain oleh Salmonella typhi, Thypoid juga bisa disebabkan oleh Salmonella paratyphi namun gejalanya jauh lebih ringan. Kuman ini umumnya terdapat dalam air atau makanan yang ditularkan oleh orang yang terinfeksi kuman tersebut sebelumnya.

Thypoid saat ini masih sangat sering kita jumpai dalam kehidupan sehari hari. Lebih dari 13 juta orang terinfeksi kuman ini di seluruh dunia dan 500.000 diantaranya meninggal dunia.

Faktor Penyebab Penyakit Thypoid

Beberapa faktor yang mungkin menyebabkan thypoid pada seseorang yaitu:

Keadaan umum: gizi buruk dapat menghambat pembentukan antibodi.

  1. Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit: aglutinin baru dijumpai dalam darah setelah klien sakit 1 minggu dan mencapai puncaknya pada minggu ke-5 atau ke-6.
  2. Obat-obatan imunosupresif atau kortikosteroid: obat-obat tersebut dapat menghambat terjadinya pembentukan antibodi karena supresi sistem retikuloendotelial.
  3. Vaksinasi dengan kotipa atau tipa: seseorang yang divaksinasi dengan kotipa atau tipa, titer aglutinin O dan H dapat meningkat. Aglutinin O biasanya menghilang setelah 6 bulan sampai 1 tahun, sedangkan titer aglutinin H menurun perlahan-lahan selama 1 atau 2 tahun. Oleh sebab itu titer aglutinin H pada orang yang pernah divaksinasi kurang mempunyai nilai diagnostik.
  4. Penyakit – penyakit tertentu: ada beberapa penyakit yang dapat menyertai demam typhoid yang tidak dapat menimbulkan antibodi seperti agamaglobulinemia, leukemia dan karsinoma lanjut.
  5. Pengobatan dini dengan antibiotika: pengobatan dini dengan obat anti mikroba dapat menghambat pembentukan antibodi.
  6. Infeksi klien dengan klinis/subklinis oleh salmonella sebelumnya: keadaan ini dapat mendukung hasil uji widal yang positif, walaupun dengan hasil titer yang rendah.
  7. Reaksi anamnesa: keadaan dimana terjadi peningkatan titer aglutinin terhadap salmonella thypi karena penyakit infeksi dengan demam yang bukan typhoid pada seseorang yang pernah tertular salmonella di masa lalu.

Gejala Thypoid

Gejala Thypoid biasanya berkembang satu atau dua minggu setelah seseorang terinfeksi dengan bakteri Salmonella typhi. Dengan pengobatan, gejala Thypoid meningkat dalam waktu tiga sampai lima hari.

Jika Thypoid tidak diobati, kondisi biasanya semakin memburuk selama beberapa minggu dan ada risiko yang signifikan bahwa komplikasi yang mengancam jiwa dapat terjadi. Tanpa pengobatan, akan memakan waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan untuk sepenuhnya pulih dan gejala dapat kembali.

Gejala umum dari Thypoid dapat mencakup:

– Kelelahan

– Sakit kepala

– Perasaan sakit

– Kehilangan nafsu makan

– Nyeri otot

– Sakit perut

– Sembelit atau diare (dewasa cenderung mendapatkan sembelit dan anak-anak cenderung mendapatkan diare)

– Suhu tinggi yang bisa mencapai 39-40 °C

– Ruam terdiri dari bintik-bintik merah muda kecil

– Kebingungan, seperti tidak tahu di mana Anda berada atau apa yang terjadi di sekitar Anda.

Obat Untuk Penderita

Adapun obat yang dapat anda berikan kepada penderita thypoid:

  1. Thiamphenicol

Thiamphenicol adalah antibiotik yang dapat menangani infeksi akibat bakteri. Beberapa jenis infeksi yang bisa diatasi dengan obat ini meliputi infeksi akibat bakteri Salmonella, seperti Thypoid, infeksi saluran pernapasan, infeksi saluran kemih, infeksi saluran pencernaan, meningitis, serta gonore.

Antibiotik ini larut dalam lemak dan bekerja dengan membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri penyebab infeksi.

  1. Cotrimoxazole

Cotrimoxazole adalah antibiotik dengan kombinasi dua macam komponen obat yaitu sulfamethoxazole 400 mg trimethoprim 80 mg. Maka banyak kemasan obat yang mencantumkan sebagai cotrimoxazole 480 mg. Kombinasi kedua komponen obat tersebut menciptakan efek bakterisidal dan bakteriostatik.

Efek bakterisidal berarti membunuh bakteri, hal ini diperantarai oleh Trimethoprim yang bekerja pada dua tahap pembentukan asam nukleat dan protein yang penting bagi bakteri. Sedangkan efek bakteriostatik berarti menghentikan perkembang biakan bakteri, hal ini diperentarai sulfamethoxazole.

Dengan mekanisme kerja tersebut maka cotrimoxazole memiliki aktivitas antibakterial yang luas terhadap bermacam – macam kuman seperti Streptococcus sp, Staphylococcus so, Pneumococcus sp, Klebsiella, Neisseria, Bordetella.

Shigella sp dan Vibrio cholerae serta terhadap beberapa bakteri yang diketahui resisten terhadap antibiotik jenis lain seperti Haemophillus influenzae, Escherichia. coli. Proteus mirabilis, Proteus vulgaris dan bebeberapa strain Staphylococcus.