skip to Main Content
+62 822-1122-6676 customercare@autoimuncare.com
Jenis Penyakit Filariasis Dan Penularannya

Jenis Penyakit Filariasis Dan Penularannya

Penyakit Filariasis atau Elephantiasis atau yang sering disebut kaki gajah adalah golongan penyakit menular yang disebabkan oleh cacing filaria yang ditularkan melalui berbagai jenis nyamuk. Setelah tergigit nyamuk, parasit (larva) akan menjalar dan ketika sampai pada jaringan sistem lympa maka berkembanglah menjadi penyakit tersebut.

Penyakit ini bersifat menahun (kronis) dan bila tidak mendapatkan pengobatan, dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki. Penyakit filariasis bukanlah penyakit yang mematikan, namun demikian bagi penderita mungkin menjadi sesuatu yang dirasakan memalukan bahkan dapat mengganggu aktifitas sehari-hari.

Penyakit filariasis umumnya banyak terdapat pada wilayah tropis. Menurut info dari WHO, urutan negara yang terdapat penderita mengalami penyakit kaki gajah adalah Asia Selatan (India dan Bangladesh), Afrika, Pasifik dan Amerika. Belakangan banyak pula terjadi di negara Thailan dan Indonesia (Asia Tenggara).

Penyakit filariasis bisa dibagi menjadi 3 berdasarkan anatomi yang terinfeksi, antara lain:

  1. Filariasis Limfatik

Disebabkan oleh jenis cacing Wuchereria bancrofti, brugia malayi, dan B. Timori. Tiga jenis cacing ini menempati sistem limfatik tubuh, ketika kronis maka cacing-cacing ini akan menyebabkan penderita mengalami pembesaran pada kaki (elephantiasis).

  1. Filariasis Subkutan

Disebabkan oleh cacing mata afrika, mansonella streptocerca, dan onchocerca volvulus. Mereka bersarang di subkutan kulit, lapisan lemak manusia. Cacing mata afrika bisa menyebabkan loiasis (infeksi pada kulit dan mata) sedangkan O. Volvulus bisa mengakibatkan river blindness atau onkosersiasis yang terjadi sebagai bentuk infeksi dari hidupnya parasit pada mata.

  1. Filariasis Rongga Serosa

Disebabkan oleh cacing Mansonella Perstans dan Mansonella Azzardi. Mereka bersarang di rongga serosa dan abdomen (bagian perut) manusia. Ketika cacing-cacing ini berkembang biak, larva-larva ukuran kecil akan terlepas dan mengalir bersama darah tubuh inangnya.

Begitu ada nyamuk yang menghisap darah inang yang sudah terinfeksi larva, maka nyamuk tersebut memiliki potensi untuk menyebarkan larva tersebut di tubuh baru.

Penularan Penyakit Filariasis

Penyakit ini ditularkan melalui nyamuk yang menghisap darah seseorang yang telah tertular sebelumnya. Darah yang terinfeksi dan mengandung larva dan akan ditularkan ke orang lain pada saat nyamuk yang terinfeksi menggigit atau menghisap darah orang tersebut.

Tidak seperti malaria dan demam berdarah, filariasis dapat ditularkan oleh 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes dan Armigeres. Karena inilah, filariasis dapat menular dengan sangat cepat.

Seseorang yang terinfeksi penyakit filariasis umumnya terjadi pada usia kanak-kanak, dimana dalam waktu yang cukup lama (bertahun-tahun) mulai dirasakan perkembangannya.

Adapun gejala akut yang dapat terjadi antara lain:

– Radang saluran kelenjar getah bening yang terasa panas dan sakit yang menjalar dari pangkal kaki atau pangkal lengan kearah ujung (retrograde lymphangitis).

– Filarial abses akibat seringnya menderita pembengkakan kelenjar getah bening, dapat pecah dan mengeluarkan nanah serta darah.

– Pembesaran tungkai, lengan, buah dada, buah zakar yang terlihat agak kemerahan dan terasa panas (early lymphodema).

– Demam berulang-ulang selama 3-5 hari, demam dapat hilang bila istirahat dan muncul lagi setelah bekerja berat.

– Pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada luka) didaerah lipatan paha, ketiak (lymphadenitis) yang tampak kemerahan, panas dan sakit.

Sedangkan gejala kronis dari penyakit kaki gajah yaitu berupa pembesaran yang menetap (elephantiasis) pada tungkai, lengan, buah dada, buah zakar (elephantiasis skroti).

Pemeriksaan Diagnostik Penyakit Filariasis

Penyakit filariasis ini umumnya terdeteksi melalui pemeriksaan mikroskopis darah. Sampai saat ini hal tersebut masih dirasakan sulit dilakukan karena microfilaria hanya muncul dan menampilkan diri dalam darah pada waktu malam hari selama beberapa jam saja (nocturnal periodicity).

Selain itu, berbagai methode pemeriksaan juga dilakukan untuk mendiagnosa penyakit filariasis. Diantaranya ialah dengan system yang dikenal sebagai penjaringan membran, metode konsentrasi knott dan teknik pengendapan.

Metode pemeriksaan yang lebih mendekati kearah diagnosa dan diakui oleh pihak WHO adalah dengan jalan pemeriksaan sistem “Tes kartu”, Hal ini sangatlah sederhana dan peka untuk mendeteksi penyebaran parasit (larva). Yaitu dengan cara mengambil sample darah sistem tusukan jari droplets diwaktu kapanpun, tidak harus dimalam hari.

Baca juga artikel menarik lainnya disini