skip to Main Content
+62 822-1122-6676 customercare@autoimuncare.com
Contoh Jurnal Tentang Penyakit Bronkitis

Contoh Jurnal Tentang Penyakit Bronkitis

Berikut ini merupakan contoh Jurnal penyakit bronkitis yang bisa anda pelajari, anda dapat menggunakan contoh ini untuk membuat jurnal baru tentang penyakit bronkitis maupun penyakit lainnya.

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Pengobatan yang baik merupakan upaya pencegahan yang paling penting karena dapat mengurangi penyebaran penyakit tersebut dimasyarakat, kegagalan pengobatan / kambuh setelah pengobatan yang tidak teratur atau kombinasi yang buruk. Pemakaian obat dikatakan rasional jika diagnosis tepat dan pemilihan obat yang terbaik untuk penyakit tersebut.

Dosis yang tidak rasional yaitu pemberian obat yang sebenarnya tidak perlu misalnya pemberian antibiotik pada infeksi yang ditimbulkan oleh virus, seringkali dokter memberikan obat berdasarkan gejala-gejala yang dikeluhkan penderita tanpa mempertimbangkan penting/tidaknya gejala yang dihadapi.

Oleh karena itulah maka banyak mendorong terjadinya pemakaian obat dari 1 macam yang sebenarnya tidak perlu, hal ini dikenal dengan istilah over prescribing atau disebut juga poli farmasi.

Penggunaan obat yang tidak rasional dapat berdampak negatif kecuali tes pelayanan, keamanan, pelayanan pengobatan (menimbulkan resiko atau efek obat yang tidak diinginkan) terhadap biaya pelayanan (menambah biaya) dan dampak psikososial yang mengurangi kepercayaan masyarakat.

Di Negara berkembang seperti Indonesia infeksi saluran pernafasan bawah masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting. Resiko penularan setiap tahun di Indonesia cukup tinggi dan bervariasi antara 1-3%, sebagian besar dari orang yang terinfeksi tidak akan menjadi penderita bronkhitis hanya sekitar 10% dari yang terinfeksi yang akan menjadi penderita bronkhitis.

Bronkhitis adalah suatu peradangan pada bronkus, bronkhiali, dan trakhea (saluran udara ke paru-paru). Penyakit ini biasanya bersifat ringan dan pada akhirnya akan sembuh sempurna. Tetapi pada penderita yang memiliki penyakit menahun (misalnya penyakit jantung atau penyakit paru-paru) dan usia lanjut, bronkhitis bisa menjadi masalah serius.

Pada terapi bronkitis yang bertujuan untuk menghilangkan simtomatis dan bakteri, infeksi membutuhkan beberapa obat sekaligus dalam sekali terapi, hal ini menimbulkan masalah yang dikenal dengan poliformasi, sedangkan dengan poliformasi adalah penggunaan obat yang berlebihan pasien dan penulisan obat berlebihan oleh dokter.

Dimana pasien menerima rata-rata 8-10 jenis obat sekaligus sekali kunjungan dokter atau pemberian lebih dari satu obat untuk penyakit yang diketahui obat dan dapat disembuhkan dengan satu jenis obat. Sehingga dapat menimbulkan efek samping dan akan menimbulkan Drug Related Problems khususnya interaksi obat.

Drug Related Problems adalah sebagai kejadian tidak diinginkan yang menimpa pasien yang berhubungan dengan terapi obat dan secara nyata maupun potensial berpengaruh terhadap terapi obat.

  1. Metode Penelitian

Tempat Penelitian

Tempat penelitian tentang evaluasi pengobatan terapi bronkitis pada pasien Rumah Sakit Umum Daerah Cilacap.

  1. Batasan Variabel Operasional

Bronkitis adalah peradangan dari satu atau lebih pada saluran pernafasan (bronkus), peradangan ini disebabkan oleh banyak faktor. Penyebabnya bisa dari virus, bakteri, alergi. Peradangan yang akut bisa terjadi secara singkat atau panjang.

Pengobatan yang rasional adalah menyangkut tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, tepat pasien dan mewaspadai efek samping obat. Evaluasi penggunaan obat kejadian potensial DRPs khususnya interaksi obat.

Drug Related Problems (DRPs) adalah sebagai kejadian tidak diinginkan yang menimpa pasien yang berhubungan dengan terapi obat secara nyata maupun potensial berpengaruh terhadap terapi obat. Kriteria Pasien bronkitis adalah adalah pasien anak yang mengalami peradangan pada bronkus, bronkhiali dan trakhea. Pasien anak adalah anak yang berusia 0-14tahun.

  1. Analisis Data

Data dikumpulkan adalah data dari rekam medis pasien bronchitis anak selama tahun 2009 mulai dari bulan januari sampai dengan desember. Data tersebut meliputi data mengenai karakteristik pasien, diagnosis, data pendukung diagnosis, dan pelaksanaan terapi.

Data tersebut diolah serta dianalisa secara deskriptif, yaitu dengan menuturkan dan menafsirkan data bentuk tabel mengenai pengumpulan dan penyusunan data angka dari data rekam medik dan dibandingkan dengan standar terapi dan buku teks berupa Drug Interaction Fact dan Stockley;s Drugs Interaction.

  • Hasil Dan Pembahasan

Penelitian ini dilakukan di RSUD Cilacap melalui rekam medis dengan metode retrospektif terhadap pasien bronkhitis yang menjalani rawat jalan selama tahun 2009. Berdasarkan hasil pengumpulan data populasi terdapat 140 kasus bronchitis anak.

  • Karakteristik populasi Penelitian

Pasien bronkhitis anak ditinjau dari jenis kelamin di instalasi rawat jalan RSUD Cilacap. Perbandingan pasien wanita dan pria adalah sama dimana pasien wanita 50% dan pasien pria sebesar 50% .

Jumlah pasien bronchitis tidak ada perbedaan yang dipengaruhi jenis kelamin, namun di pengaruhi oleh debu, bakteri dan untuk mengatasi kekurangan oksigen, dan sanitasi lingkungan sehingga tidak ada perbedaan antara bronkhitis pada pasien laki-laki dan perempuan.

  1. Evaluasi Potensial Interaksi Obat

Pada penelitian dilakukan evaluasi pengobatan dengan menghitung prosentase kemungkinan terjadinya potensial DRPs. Dari tujuh keriteria DRPs hanya kami fokuskan pada kriteria ADR khususnya interaksi obat. Angka kejadian interaksi obat sebanyak 28 kasus (20%) dari 140 kasus yang ada.

Pengambilan data pada penelitian ini dilakukan secara retrospektif sehingga penelitian tidak bisa melihat gejala klinik yang timbul pada pasien jadi penelitian kemungkinan terjadinya interaksi obat ini hanya berdasarkan literatur yang ada tanpa adanya wawancara langsung dengan pasien.

Berdasarkan data diperoleh kemungkinan terjadinya interaksi obat pada pasien bronkhitis rawat jalan di RSUD Cilacap tahun 2009 sangat besar.

Hal ini di sebabkan karena banyak jumlah obat yang di berikan pada masing-masing pasien dan juga pemberian obat bronkhitis yang lebih dari satu macam pemberian obat yang banyak pada pasien yang di sebabkan karena pasien bronkhitis juga menderita penyakit lain sehingga obat yang di berikan banyak.

Telah diketahui interaksi obat dapat terjadi apabila dua atau lebih obat berinteraksi sedemikian rupa sehingga keefektifan atau toksisitas satu atau lebih obat berubah.

Polifarmasi adalah penggunaan obat yang berlebih pasien dan penulisan obat berlebih oleh dokter dimana pasien menerima rata-rata 8-10 jenis obat sekaligus sekali kunjungan dokter atau pemberian lebih dari satu obat untuk penyakit yang diketahui dan dapat disembuhkan dengan satu jenis obat.

Pada penelitian kali ini jumlah obat yang paling banyak diberikan adalah 2-4 jenis obat yaitu sebanyak 77 pasien atau 55% (tabel 3). Pada pemberian resep lebih dari satu macam obat bertujuan untuk menyembuhkan penyakit bronchitis, sedangkan jumlah obat yang diberikan 5-7 jenis obat yaitu sebanyak 3 pasien atau 2,14%.

Bronkhitis terjadi interakasi, baik obat bronkhitis dengan obat lain penderita yang potensial mengalamii interaksi obat yaitu sebanyak 28 kasus atau 20%. Asumsi bahwa pemberian obat lebih dari satu akan memberikan efek lebih baik menyebabkan masih banyak ditemukannya resep dengan jumlah obat lebih dari satu.

Untuk mengatasi pemberian terapi bronchitis yang lebih dari satu, khususnya terapi anti bakteri dapat dilakukan dengan menetapkan suspek bacteri penyebeb infeksi. Secara umum pemilihan anti bakteri harus didasari identifikasi jenis bakteri yang terdapat dalam specimen.

Dengan diketahuinya bakteri penyebabnya maka dapat dipilih antibakteri yang efektif menghambat atau membunuh bakteri tersebut.

Selain masalah interaksi obat jika diberikan bersamaan, efktivitas obat seharusnya juga menjadi perhatian. Karena biasanya penggunaan beberapa obat bersamaan akan meningkatkan toksisitas obat dan menurunkan efek obar (antagonisme). Terlebih jika pengguaannya pada pasien pediatric, yang secara umum belum sempurna beberapa fungsi organnya.

Dalam terapi bronchitis penggunaan amoxicillin dosis tinggi merupakan pilihan pertama jika tidak disertai dengan gejala lain. Penggunaan eritromisin menjadi pilihan jika pasien diketahui alergi golongan penicillin.

Oleh karena itu penggunaan amoxiciliin dan eritromisin bersamaan menjadi duplikasi dalam terapi bronkhitis. Pemberian rifampisin perlu dilakukan jika diketahui penyebab terjadinya infeksi adalah leginella, namun akan efektif jika dikombinasikan dengan eritromicin.

Pemilihan isoniazid dalam terapi bronchitis kurang berdasar, mengingat isoniazid adalah salah satu bakteri spesifik untuk Mycobacterium tuberculosis. Hal ini diduga dapat mempengaruhi efektifitas terapi Tuberculosis.

Efektivitas terapi bronchitis sangat dipengaruhi oleh kemampuaan klinisi dalam menentukan penyebab infeksi. Oleh karena itu perlu dibuat standar terapi yang lebih jelas dan spesifik agar duplikasi terapi tidak lagi terjadi.

Apa Itu Pulmohealer?

Obat Penyakit Paru-Paru Pulmohealer adalah produk dari PT. Autoimuncare Indonesia ( PT. AICI ) yang khusus mengatasi berbagai penyakit paru-paru. Dengan penelitian formula herbal nanotechnology selama 15 tahun membuat Pulmohealer banyak dicari di dalam maupun luar negeri.

Pulmohealer bereaksi cepat, dijamin aman, dan tidak menimbulkan efek samping berbahaya bagi Tubuh Anda.