skip to Main Content
+62 822-1122-6676 customercare@autoimuncare.com
Pengertian Penyakit Radang Usus Buntu (Appendicitis)

Pengertian Penyakit Radang Usus Buntu (Appendicitis)

Radang usus buntu (Appendicitis) adalah peradangan usus buntu, sebuah organ yang merupakan tabung sepanjang 1,5 cm membentang dari usus besar. Tidak ada yang benar-benar yakin apa fungsi apendiks. Satu hal yang kita tahu bahwa kita bisa hidup tanpa apendiks.

Radang usus buntu adalah keadaan darurat medis yang membutuhkan operasi yang cepat untuk mengangkat apendiks. Tanpa diobati, usus buntu yang meradang akhirnya akan meledak, atau dalam bahasa medis disebut perforasi, sehingga mengeluarkan isinya ke dalam rongga perut.

Hal ini dapat menyebabkan peritonitis, peradangan serius dari rongga lapisan perut (peritoneum) yang bisa berakibat fatal kecuali jika ditangani dengan cepat dengan antibiotik yang kuat.

Kadang-kadang Radang usus buntu berisi nanah abses yang dapat menuju keluar usus buntu yang meradang dan jika abses pecah akan membentuk jaringan parut. Jaringan parut dan abses inilah membuat apendiks menjadi bengkak, dan tersumbat.

Maka, meskipun apendiks belum perforasi, semua kasus apendisitis diperlakukan darurat, yang membutuhkan pembedahan sebagai bentuk penanganannya. Di AS, 1 dari 15 orang akan mengalami usus buntu. Meskipun bisa menyerang pada usia berapa pun, apendisitis jarang terjadi di bawah usia 2 tahun dan paling sering antara usia 10-30 tahun.

Penyebab Penyakit Radang Usus Buntu (Appendicitis)

Penyakit radang usus buntu ini umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri, namun faktor pencetusnya ada beberapa kemungkinan yang sampai sekarang belum dapat diketahui secara pasti.

Di antaranya faktor penyumbatan (obstruksi) pada lapisan saluran (lumen) appendiks oleh timbunan tinja/feces yang keras (fekalit), hyperplasia (pembesaran) jaringan limfoid, penyakit cacing, parasit, benda asing dalam tubuh, cancer primer dan striktur.

Diantara beberapa faktor diatas, maka yang paling sering ditemukan dan kuat dugaannya sebagai penyabab adalah faktor penyumbatan oleh tinja/feces dan hyperplasia jaringan limfoid. Penyumbatan atau pembesaran inilah yang menjadi media bagi bakteri untuk berkembang biak.

Perlu diketahui bahwa dalam tinja/feces manusia sangat mungkin sekali telah tercemari oleh bakteri/kuman Escherichia Coli, inilah yang sering kali mengakibatkan infeksi yang berakibat pada peradangan usus buntu.

Makan cabai bersama bijinya atau jambu klutuk beserta bijinya sering kali tak tercerna dalam tinja dan menyelinap kesaluran appendiks sebagai benda asing.

Begitu pula terjadinya pengerasan tinja/feces (konstipasi) dalam waktu lama sangat mungkin ada bagiannya yang terselip masuk kesaluran appendiks yang pada akhirnya menjadi media kuman/bakteri bersarang dan berkembang biak sebagai infeksi yang menimbulkan peradangan usus buntu tersebut.

Seseorang yang mengalami penyakit cacing (cacingan), apabila cacing yang beternak didalam usus besar lalu tersasar memasuki usus buntu maka dapat menimbulkan penyakit radang usus buntu.

Gejala Penyakit Radang Usus Buntu (Appendicitis)

Gejala klasik apendisitis meliputi:

– Demam.

– Ketidakmampuan untuk flatus (kentut).

– Kehilangan selera makan.

– Mual dan / atau muntah segera setelah sakit perut dimulai.

– Pembengkakan perut.

– Nyeri dekat pusar atau perut bagian atas yang menjadi semakin tajam ketika bergerak ke perut kanan bawah. Ini biasanya merupakan tanda pertama.

Selain itu seiring berjalannya waktu, gejala lain dari usus buntu muncul, meliputi:

– Kram parah.

– Sembelit atau justru diare.

– Nyeri tajam di mana saja di perut bagian atas atau bawah, punggung, atau rectum.

– Nyeri ketika buang air kecil.

– Muntah yang mendahului nyeri perut.

Jika memiliki salah satu gejala yang disebutkan di atas, cari bantuan medis segera, karena diagnosis dan pengobatan sangat penting. Jangan makan, minum, atau menggunakan obat nyeri, antasida, obat pencahar, atau bantalan pemanas, yang dapat menyebabkan apeniks meradang dan pecah.

Mengobati Penyakit Radang Usus Buntu (Appendicitis)

Operasi untuk mengangkat usus buntu, yang disebut apendiktomi, adalah pengobatan standar untuk radang usus buntu.

Secara umum, jika dicurigai usus buntu, dokter cenderung untuk segera mengambil apendiks sehingga perforasi dapat dicegah. Jika usus buntu telah membentuk abses, pasien dapat menjalani dua prosedur: satu untuk mengeringkan abses nanah dan cairan, dan prosedur selanjutnya untuk mengangkat apendiks.

Namun, ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa pengobatan apendisitis akut dengan antibiotik dapat menghilangkan kebutuhan untuk operasi.

Antibiotik yang diberikan sebelum apendiktomi dapat digunakan untuk melawan peritonitis. Anestesi umum biasanya diberikan, dan apendiks akan diangkat melalui sayatan perut atau dengan laparoskopi. Jika Anda mengalami peritonitis, perut juga perlu diirigasi dan nanah perlu dikeringkan.

Dalam waktu 12 jam operasi pasien dapat bangun dan bergerak. Pasien biasanya dapat kembali ke kegiatan normal dalam 2-3 minggu. Jika operasi dilakukan dengan laparoskop (instrumen teleskop untuk melihat isi perut), sayatan yang dilakukan akan lebih kecil dan pemulihan lebih cepat.

Setelah operasi usus buntu, hubungi dokter jika Anda mengalami:

– Pusing / pingsan.

– Darah di ada pada muntahan atau pipis.

– Demam.

– Muntah yang tidak terkontrol.

– Sakit perut yang meningkat.

– Peningkatan rasa sakit dan kemerahan di bekas sayatan.