skip to Main Content
+62 822-1122-6676 customercare@autoimuncare.com
Penyakit Thypoid

Penyakit Thypoid

Penyakit Thypoid merupakan penyakit yang banyak ditemukan pada masyarakat baik di daerah perkotaan maupun di pedesaan. Penyakit ini memiliki hubungan yang erat dengan kualitas kebersihan pribadi dan sanitasi lingkungan yang kurang baik.

Indonesia masih merupakan daerah endemik Thypoid. Kasus tersangka Thypoid di rumah sakit akhir-akhir ini menunjukkan kecenderungan peningkatan dari tahun ke tahun dengan rata-rata angka kesakitan berkisar 500 orang/100.000 penduduk, dan tanpa pengobatan yang cepat dan tepat, penyakit ini berisiko untuk menimbulkan komplikasi yang dapat menyebabkan kematian.

Thypoid adalah penyakit infeksi akut yang terjadi pada saluran pencernaan manusia (terutama usus halus) yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Meskipun pada kenyataaannya nanti ada fase di mana bakteri penyebab bisa menyebar ke aliran darah bahkan sampai ke tulang.

Faktor Resiko Penyakit Thypoid

Ada banyak faktor risiko untuk Thypoid, yaitu:

  • Anak-anak
  • Tinggal di negara berkembang, seperti India, Asia Tenggara, Afrika, Amerika Selatan dan area lainnya
  • Bekerja atau mengunjungi area dengan wabah Thypoid
  • Mikrobiologis klinis yang menangani bakteri Salmonella typhi
  • Memiliki kontak dekat dengan orang yang terinfeksi atau baru saja terinfeksi tifus.

Gejala Thypoid

Gejala Thypoid biasanya berkembang satu atau dua minggu setelah seseorang terinfeksi dengan bakteri Salmonella typhi. Dengan pengobatan, gejala Thypoid meningkat dalam waktu tiga sampai lima hari.

Jika Thypoid tidak diobati, kondisi biasanya semakin memburuk selama beberapa minggu dan ada risiko yang signifikan bahwa komplikasi yang mengancam jiwa dapat terjadi. Tanpa pengobatan, akan memakan waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan untuk sepenuhnya pulih dan gejala dapat kembali.

Gejala umum dari Thypoid dapat mencakup:

  • Suhu tinggi yang bisa mencapai 39-40 °C
  • Sakit kepala
  • Perasaan sakit
  • Kehilangan nafsu makan
  • Nyeri otot
  • Sakit perut
  • Sembelit atau diare (dewasa cenderung mendapatkan sembelit dan anak-anak cenderung mendapatkan diare)
  • Ruam terdiri dari bintik-bintik merah muda kecil
  • Kelelahan
  • Kebingungan, seperti tidak tahu di mana Anda berada atau apa yang terjadi di sekitar Anda.

Pengobatan Penyakit Thypoid

Thypoid diobati dengan antibiotika yang dapat membunuh kuman Salmonella. Sebelum penggunaan antibiotika secara luas, angka kematian dari penyakit ini mencapai 20%. Kematian umumnya disebabkan oleh komplikasi Thypoid antara lain radang paru paru, perdarahan usus, dan kebocoran usus. Dengan antibiotika yang tepat, angka kematian dapat ditekan menjadi sekitar 1 sampai 2%. Dengan pengobatan yang pas, lamanya penyakit pun dapat ditekan menjadi sekitar seminggu.

Bagi mereka yang suka jalan jalan ke daerah yang beresiko, vaksin untuk Thypoid pun sudah tersedia, namun di Indonesia masih sangat jarang kita temui.

Adapun jenis obat yang dapat anda gunakan yaitu:

  1. Kotrimoksasol

Dapat digunakan untuk kasus yang resisten terhadap kloamfenikol, penyerapan di usus cukup baik, dan kemungkinan timbulnya kekambuhan pengobatan pengobatan lebih kecil dibandingkan kloramfenikol.

Kelemahannya dapat terjadi skin rash (1 – 15%), sindrom Steven Johnson, argunulositosis, trombositopenia, anemia megaloblastik, hemolisis eritrosit terutama pada penderita G6PD, dosis oral yang dianjurkan adalah 30 – 40 mg/kgbb/hari Sulfametoksazoldan 6 – 8 mg/kgBB/hari untuk Trimetoprim, diberikan dalam 2 kali pemberian, selama 10 – 14 hari.

  1. Ampisilin dan Amoksisilin

Dapat digunakan pada kasus yang resisten terhadap Kloramfenikol. Kelemahannya dapat terjadi skin rash (3 – 18%), dan diare (11%).

Ampisilin mempunyai daya anti bakteri yang sama dengan Ampisilin, terapi penyerapan peroral lebih baik sehingga kadar obat yang tercapai 2 kali lebih tinggi, dan lebih sedikit timbulnya kekambuhan (2 – 5%) dan karier (0 – 5%). Dosis yanng dianjurkan adalah: Ampisilin 100 – 200 mg/kgBB/hari, selama 10 – 14 hari.

Pengobatan Thypoid yang menggunakan obat kombinasi tidak memberikan keuntungan yang lebih baik bila diberikan obat tunggal.