skip to Main Content
+62 822-1122-6676 customercare@autoimuncare.com
Pengobat HIV Untuk Bayi

Pengobat HIV Untuk Bayi

HIV AIDS adalah sebuah penyakit yang disebabkan karena virus yang bernama human immunodeficiency virus. Ini jenis virus yang bisa menular dengan cepat lewat beberapa cara seperti kontak hubungan seksual dengan penderita yang sudah terinfeksi, kontak darah seperti penggunaan jarum suntik dan donor darah, hubungan darah dari ibu yang sudah terinfeksi ke janin, proses kelahiran normal dan menyusui.

Setelah virus masuk ke dalam tubuh maka akan menghancurkan semua sel CD4 yaitu jenis sel darah putih yang bekerja untuk membantu tubuh melawan infeksi. Karena itulah tubuh penderita HIV AIDS akan terus melemah dan rentan infeksi dan susah mendapatkan obat hiv jika tidak berusaha.

Bayi biasanya tertular dari ibunya, terjadi ketika:

  1. Intra uterin = selama kehamilan
  2. Intra partum = selama persalinan (melalui luka bayi ketika proses persalinan)
  3. Post partum = setelah kelahiran (melalui ASI, biasanya karena luka puting susu saat bayi menyusu). Selain itu, bayi dapat tertular melalui transfuse darah atau produk darah yang terkontaminasi.

Tes Virologis

Pada saat lahir, tes virologi dapat dipertimbangkan pada neonatus yang memiliki resiko tinggi terjadi transmisi HIV perinatal. Resiko tinggi tersebut terutama terdapat pada kondisi ibu tidak mendapatkan ARV prenatal, didiagnosis mengalami infeksi akut HV selama kehamilan, atau memiliki viral load ≥1000 kopi/mL sebelum persalinan.

Sekitar 30-40% neonatus yang terinfeksi HIV dapat teridentifikasi dalam 48 jam pertama. Diagnosis yang tepat penting untuk menentukan menghentikan profilaksis ARV dan memulai terapi ARV standar sejak awal.

Neonatus yang memiliki hasil virologi positif dalam 48 jam pertama kelahiran dapat disimpulkan mengalami infeksi intrauterine (early) sedangkan yang memiliki tes virologi negatif pada minggu pertama kehidupan tetapi kemudian positif kemungkinan infeksi terjadi intrapartum atau setelahnya (late).

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa neonatus dengan early infection dapat mengalami progres penyakit yang lebih cepat daripada yang late infection sehingga perlu terapi yang lebih agresif.

Sensitifitas tes virologi meningkat pada minggu kedua kelahiran. Dengan identifikasi awal adanya infeksi, profilaksis ARV dapat segera dihentikan untuk kemudian dilakukan inisiasi terapi ARV. Apabila dalam satu bulan pertama didapatkan hasil tes virologi negatif, pada usia 1 hingga dua bulan, bayi sebaiknya dites kembali.

Penggunaan zidovidune sebagai profilaksis tunggal pada antepartum, intrapartum dan neonatal tidak menunda deteksi kultur HIV pada neonatus. Namun, pada profilaksis kombinasi, hasilnya dapat berbeda.

Jika selama pemberian profilaksis kombinasi didapatkan hasil negatif, perlu dipertimbangkan untuk dilakukan pemeriksaan virologi pada 2 hingga 4 minggu pasca penghentian profilaksis. Pada kondisi tersebut, pemeriksaan pada usia 1 hingga 2 bulan dapat ditunda hingga masa profilaksis selesai.

Supaya dapat dilakukan eksklusif definitif, bayi terekspos HIV yang sudah menunjukan hasil negatif pada pemeriksaan virologi di usia 14-21 hari dan pada usia 1-2 bulan, tidak ada tanda klinis infeksi HIV dan tidak mendapatkan ASI perlu untuk dites kembali pada usia 4 hingga 6 bulan.

Setelah dikonfirmasi tidak mengalami infeksi HIV melalui tes virologis, tetapi belum pernah dikonfirmasi dengan hasil negatif pada dua pemeriksaan antibodi, seorang bayi perlu untuk menjalani tes serologi antara bulan ke-12 hingga 18.

Hal tersebut bertujuan untuk memastikan bahwa antibodi HIV maternal yang ditranfer di dalam uterus sudah menghilang. Rata-rata serokonversi terjadi dalam 13,9 bulan. Namun, ada pula sebagian yang mengalami serokonversi lebih lambat, sekitar 18 bulan.

Terapi dengan Antiretroviral

Segera setelah lahir, neonatus yang terekspos HIV harus mendapatkan terapi antiretroviral, termasuk bayi yang lahir dari ibu yang sudah mendapatkan regimen ARV standar, viral load yang rendah serta persalinan dengan sectio cesario.

Regimen yang digunakan adalah zidovudin, selama 6 minggu pertama. Penggunaan ARV oleh ibu juga perlu dilanjutkan baik untuk kesehatannya sendiri maupun pencegahan penularan.2,4

Dosis yang diberikan tergantung pada usia gestasi dari neonatus tersebut. Apabila usia gestasi  ≥35 minggu, dosis zidovudin adalah 4 mg/kgBB/dosis yang diberikan peroral, dua kali sehari. ARV tersebut diberikan sesegera mungkin, dalam 6-12 jam setelah persalinan.

Jika tidak dapat mentoleransi pemberian secara oral, dapat diberikan secara iv dengan dosis 3 mg/kgBB/dosis dalam 6-12 jam pascapersalinan, kemudian diberikan setiap 12 jam.2

Pada bayi yang terlahir pada usia gestasi antara 30-34 minggu, dosis yang diberikan adalah 2 mg/kgBB/dosis peroral atau 1,5 mg/kgBB/dosis iv. Pada saat usia 15 hari, dosis dapat ditingkatkan hingga 3 mg/kgBB/dosis PO atau 2,3 mg/kgBB/dosis IV.

Sementara itu, pada neonatus dengan usia gestasi kurang dari 30 minggu, dosis awal sama, yaitu 2 mg/kgBB/disis PO atau 1,5 mg/kgBB/dosis IV, yang ditingkatkan hingga 3 mg/kgBB/dosis PO atau 2,3 mg/kgBB/dosis IV setiap 12 jam sesudah usia 4 minggu.2

Apabila profilaksis dengan antiretroviral antepartum tidak diberikan pada si ibu saat hamil atau hanya dilakukan profilaksis pada saat persalinan saja, dilakukan pemberian tambahan ARV yang juga diinisiasi segera setelah persalinan.

Sebagai tambahan zidovudin, diberikan nevirapine (NVP) sebanyak 3 dosis. Dosis pertama dibeikan dalam 48 jam pasca persalinan. Dosis kedua diberikan setelah 48 jam dosisi pertama. Dosis ketiga diberikan setelah 96 jam dosis kedua diberikan.

Bayi dengan berat lahir antara 1,5-2 kg, mendapatkan total 8 mg untuk masing-masing dosis sedangkan mereka dengan berat lahir >2kg mendaptkan total 12 mg untuk masing-masing dosis. 5

Sementara itu, untuk bayi dari ibu dengan virus yang resisten, saat ini belum ada regimen profilaksis optimal yang diketahui.

Saat ini, dalam metode yang direkomendasikan, zidovudine tetap diberikan. Pada beberapa studi didapatkan bahwa virus dapat mengalami penurunan kapasitas replikatif (penurunan kekuatan virus) dan kemampuan untuk transmisi. Meskipun begitu, kejadian transmisi virus yang resisten obat ARV tetap masih ada.

Apa Itu HIVCARE?

HIVCARE adalah Obat HIV formula herbal dengan harga ekonomis yang dapat mengontrol dan mengurangi perkembangan virus HIV. Dengan penelitian formula herbal nanotechnology selama puluhan tahun membuat HIVCARE banyak dicari di dalam maupun luar negeri.