Prevalensi Penyakit TBC Di Indonesia!

Tuberkulosis disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. M.tuberculosis adalah kuman bentuk batang, bersifat aerob yang memperoleh energi dari oksidasi beberapa senyawa karbon sederhana, dan tidak membentuk spora.

Ukuran kuman ini sekitar 0,4-3 µm.14 Secara umum, Mycobacteria rentan terhadap suhu yang tinggi dan sinar UV.15 Dengan pewarnaan tehnik Ziehl Neelsen, maka kuman ini tergolong Bakteri Tahan Asam (BTA).

Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi kronis yang menyerang paru dan dapat terjadi pada organ ekstra paru seperti pleura, selaput otak, kulit, kelenjar limfe, tulang, sendi, usus, sistem urogenital, dan lain-lain. Secara umum, disebut tuberkulosis ekstra paru apabila tanda tuberkulosis terjadi pada organ selain paru.

Prevalensi Penyakit TBC Di Indonesia

Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan prevalensi penyakit TBC di Indonesia sebesar 786 per 100.000 penduduk, dengan 44% diantaranya BTA positif, yakni ditemukannya bakteri M.tuberkulosis dalam dahak (sputum) penderita.

Indonesia kini menempati urutan ketiga penderita penyakit TBC terbanyak di dunia, dengan 582.000 kasus baru per tahun, yang hampir separuhnya adalah TBC paru dengan BTA positif.

Penyakit TBC di Indonesia merupakan masalah kesehatan masyarakat. Menurut survei kesehatan rumah tangga (SKRT) pada tahun 1985 dan survei kesehatan nasional (Suskesnas) tahun 2001.

Penyakit TBC merupakan penyebab kematian ketiga terbanyak di Indonesia, setelah penyakit kardio-vaskuler dan penyakit infeksi saluran pernafasaan pada semua kelompok umur, serta penyebab kematian nomor satu dari golongan penyakit infeksi.

Untuk mengurangi angka prevalensi penyakit TBC di Indonesia, pada tanggal 24 Maret 1999, pemerintah melalui Menteri Kesehatan Republik Indonesia mencanangkan Gerakan Terpadu Nasional untuk Pemberantasan Tuberkulosis (GERDUNAS TB), upaya ini dimaksudkan untuk melibatkan pihak swasta dan masyarakat menanggulangi penyakit ini.

Upaya untuk menurunkan angka insidensi dan prevalensi panyakit TBC di Indonesia tidaklah mudah. Diperlukan suatu upaya yang menyeluruh dalam bentuk suatu program pemberantasan nasional.

Ada beberapa hal mendasar yang mesti diperhatikan dalam penanggulangan penyakit TBC, yaitu:

– Pengobatan standar yang diobservasi.

– Pengembalian penderita yang lalai berobat.

– Pencatatan dan pemantauan kasus yang tersandarisasi.

– Memastikan ketersedian obat dan perlengkapan lainnya.

– Pelatihan-pelatihan berulang yang berkelanjutan bagi para petugas kesehatan.

– Vaksinasi BCG bayi yang baru lahir serta.

– Pemeriksaan anggota keluarga yang berinteraksi erat dengan orang dewasa penderita TBC.

– Adanya kesepakatan nasional dan lokal terhadap program penanggulangan penyakit TBC.

– Pendidikan kesehatan nasional dan lokal mengenai penyakit TBC.

– Penemuan kasus-kasus baru melalui pemeriksaan rutin dahak terhadap orang-orang yang memiliki gejala penyakit TBC.

Diagnosis dan Manifestasi Klinis

Ketika seorang pasien menderita tuberkulosis, gejala dan tanda awal tidak spesifik. Secara umum, tanda dan gejala tuberkulosis adalah batuk produktif yang berkepanjangan (>3 minggu), dispneu, nyeri dada, anemia, hemoptisis, rasa lelah, berkeringat di malam hari. Dikenal pula gejala sistemik, yaitu demam, menggigil, kelemahan, hilangnya nafsu makan, dan penurunan berat badan.

Gejala ini umumnya sudah dialami dalam jangka waktu yang lama, dan apabila dirasakan telah mengganggu barulah pasien memeriksakan diri ke tenaga kesehatan, sehingga tuberkulosis yang didiagnosis cenderung bersifat kronis.

Sedangkan apabila onset yang dirasakan pasien bersifat akut, biasanya peryebabnya adalah penyakit non-tuberkulosis. Penyakit tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang bersifat kronis, dengan gejala dan tanda yang kurang spesifik sehingga dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis karena pasien menunda pemeriksaan, ditambah dengan hasil pemeriksaan yang belum pasti.

Sebuah penelitian dilakukan di Norway menunjukan bahwa pada negara dengan prevalensi tuberkulosis cukup tinggi memiliki kecenderungan terlambat dalam menentukan diagnosis tuberkulosis.

Faktor-faktor seperti sosial dan ekonomi, kurangnya pengetahuan akan bahaya tuberkulosis, kurangnya fasilitas kesehatan yang memadai dan lain sebagainya menyebabkan kebanyakan pasien terlambat memeriksakan dirinya, sehingga kebanyakan pasien datang dalam kondisi kronis.

Didukung pula oleh fakta bahwa gejala dan tanda awal tuberkulosis bersifat nonspesifik dan onsetnya lama, sehingga seringkali pasien kurang memahami penyakit yang sedang diderita. Hal-hal tersebut diatas dapat meningkatkan resiko komplikasi dari tuberkulosis.

 

[vc_cta h2=”Apa Itu Pulmohealer?” add_button=”bottom” btn_title=”Klik untuk Lihat Produk!” btn_style=”flat” btn_shape=”square” btn_color=”warning” btn_size=”lg” btn_align=”center” btn_button_block=”true” btn_link=”url:http%3A%2F%2Fwww.autoimuncare.com%2FPulmohealer%2F|||”]Pulmohealer adalah produk dari PT. Autoimuncare Indonesia ( PT. AICI ) yang khusus mengatasi berbagai penyakit paru-paru. Dengan penelitian formula herbal nanotechnology selama 15 tahun membuat Pulmohealer banyak dicari di dalam maupun luar negeri.

Pulmohealer bereaksi cepat, dijamin aman, dan tidak menimbulkan efek samping berbahaya bagi Tubuh Anda.[/vc_cta]

Related Posts